Lottery betting platform_Best online casino in Indonesia_Crown football source code

  • 时间:
  • 浏览:0

Kakak masBaccarat Forumuk kBaccaraBaccarat Forumt ForumBaccarat ForumBaccarat Forumerumah mengambil sesuatu yang aku tidak tahu. Sedang aku langsung mengambil kunci motor dikamar. Kami biarkan ibu dan adik dirumah. Sepanjang jalan suara Abah mengajakku ke masjid terngiang. Dari kaca spion motor kuliat kakak ku menghapus airmatanya dibalik punggungku. Kami sibuk dengan pikiran masing-masing.

Tidak ada nikmat yang lebih indah. Dari waktu bersama keluarga. Aku dididik dalam ajaran Agama yang taat. Abah adalah pensiunan PNS yang sangat religius. Sebagai anak laki-laki satu-satunya aku selalu dituntut untuk menjadi contoh dan pemimpin yang baik.

Dan sayangnya aku tidak seperti harapan beliau. Meski ‘nakal’ku masih dalam status wajar.  Aku tidak pernah mabuk, masuk klub malam, mainin perempuan, terlibat tawuran dan sejenisnya. Kenakalan yang masih tergolong ‘aman’ . Tapi di mata Abah kenakalanku sangat mengganggu pikirannya. Kenalan yang tak tampak dan mungkin biasa di mata sebagian orangtua. Meninggalkan sholat, lalai, malas ke masjid dan jarang membuka alquran. Adalah kenakalan yang sangat Abah sayangkan dari anak laki-lakinya ini.

“ iya buk” , jawab ku sambil mengambil payung yang tak jauh dari rak sepatu.

“ini minum dulu” ibu menyerahkan gelas ditangannya.

Mereka adalah tanggungjawabku sekarang.

Seperti tak menyerah kali ini tepukkan itu sedikit lebih keras. “ Ayo bangun mas, ke masjid sama Abah nanti baru lanjut tidur lagi”, rayunya

***

Seperti pagi dihari biasanya, tidak ada yang aneh hari itu. Abah dengan rutinitasnya. Bangun sebelum azan subuh berkumandang. Masuk kekamarku.

“makasih ya “, ku cium pipinya kurangkul pundaknya sembari mengiringnya ke meja makan yang sudah ada kakak dan adik perempuanku.

“ hujan mas, nggak papa kog nggak ke masjid udzur syar’i “  suara kak Hilda menyahut , mungkin dia ikut terbangun mendengar suara gaduh diluar.

 “ ndak papa kak, nanti hitungan pahalanya makin gede” jawabku dengan kekehan. Sembari mencium tangan Ibu dan Kak Hilda.  “ Mas berangkat ke Masjid ya buk, kak, Assalamualaikum” pamitku berlalu meninggalkan rumah

“Anak lanang itu tugasnya berat loh Mas, kamu punya kakak dan adik perempuan, belum lagi ibuk mu, nanti kalo bapak nggak ada yang jagain mereka tuh ya kamu , paham kamu Mas”

Dari ujung ekor mataku kulihat Kak Hilda yang coba menenangkan ibu.

Lagi ajakan beliau ke Masjid kali ini tak berhasil. Abah tetap keluar dengan hasil nihil. Pergi ke masjid seorang diri tanpa anak laki-laki yang dia harapkan. Aku tidak menyadari jika pagi itu adalah terakhir aku mendengarnya membangunkan dan mengajakku ke masjid.

“biar mas nggak masuk angin, tadi kan hujan-hujanan”, katanya

Beberapa saat aku terdiam sampai kakak perempuanku menarik tanganku. Dia tidak memberiku waktu untuk mencerna semuanya. Bagai robot aku mengikuti setiap perintahnya.

“hhheee.. iya Bah nanti ya, Mas tuh capek. Lagian Mas sholat dirumah juga jadi imam tuh buat mbak, adek sama ibuk.

“ Nikmat mana lagi yang kau dustakan “ (QS: Ar-rahman)

“Waalaaikumsalam” jawab Kak Hilda dan Ibu bersamaan

Kupandangi mata yang telah tertutup itu, kulit yang telah memucat “bah, kenapa pergi sebelum Mas ke masjid sama abah, kan mas janji besok kita sholat subuh bersama” kalimat penyesalan yang tidak bisa aku suarakan. Tangisku pecah saat jenazah Abah akan dimandikan. “ bah, ini jadi terakhir kalinya kita mandi bersama”, kataku membatin sembari ikut mengangkat jenazah untuk dimandikan.

“ngerti-ngerti tapi dibanguni sholat subuh ke masjid tidur lagi. Gimana kamu jadi pemimpin kalau buat subuh ke masjid aja malas, nak”

Pagi itu mendung menyelimuti keluar besar kami. Tidak ada firasat apapun. Abah meninggal selepas sholat subuh. Menurut orang masjid Abah terpeleset tangga masjid yang basah selepas hujan. Benturan yang cukup keras ditambah faktor usia menambah buruk kondisi beliau. Saat dibawak kerumah sakit Abah sudah tidak sadarkan diri. Aku dan Kak Hilda yang menyusul kerumah sakit pun tidak dapat berada disisi beliau. Kami terlambat.

Namaku Dzuhairi Nizzam Al-Fatih. Seperti namaku Dzuhairi yang berarti cerdas, baik dan beruntung. Hidupku jelas sangat beruntung. Terlahir dari keluarga yang sederhana tapi sangat harmonis. Punya kakak yang baik, pintar dan soleha. Adik perempuan yang penurut dan sangat patuh. Orangtua yang baik dan sangat menyayangiku.

“Assamualaikum, “ ucapku sembari meletakkan payung yang tadi pagi aku pakai untuk kemasjid pada tempatnya.

“Ngerti Bah”

“Masih mau ke masjid kamu Mas” suara perempuan yang sangat aku sayangi coba merayukku lagi.

Kesedihan sangat jelas. Kami sangat kehilangan. Abah adalah lelaki tegas dan sangat lembut dalam berucap. Tidak pernah membentak atau memukul. Jika dia marah kami hanya mampu diam mendengar setiap nasehatnya tanpa berani menyela.

“hmm.. Mas-mas kapan dewasa  toh”, beliau menepuk pundakku sembari meninggalkan kamar anak lanangnya setelah puas memberi ceramah dipagi hari.

***

Selepas sholat subuh yang kesiangan didukung cuaca yang begitu dingin membuatku ingin melanjutkan tidur yang tertunda.  Baru saja hendak naik ke ranjang, diluar rumah suara gaduh memanggil-manggil nama ibuk mengurungkan niatku. Aku keluar dari kamar disusul penghuni rumah lain. Ibu membuka pintu rumah. Dan yang ku dengar berikutnya adalah suara tangis ibu dan adikku.

“ Dua rakaat sebelum subuh itu lebih baik dari dunia dan seisinya, nak”

“Besok aja  ya Bah, besok mas temanin Abah ke masjid deh “ rayuku dan kembali menarik selimut.

“repot amat buk, bisa tarok dimeja makan toh“

“ Nanti Bah, adzan masih lama” kataku masih dengan posisi membelakangi beliau

“ Mas, bangun subuh ke masjid sama Abah yok” , beliau menepuk pundakku dengan pelan. Aku masih enggan membuka mata. Hanya gumaman tak jelas.

“ ayo mas, buruan kerumah sakit” teriak kakakku

Aku diam tidak merespon ucapan beliau.

“bah .. semoga mas bisa jadi pemimpin yang amanah seperti yang abah harapkan”, ucapku dihati.

Dua puluh menit kemudian kami sampai di ruang Unit Gawat Darurat sebuah rumah sakit. Aku memarkirkan motor asal. Kami masuk bertepat dengan dokter yang melepas alat bantu pernafasan yang sebelumnya terpasang. Dan kalimat berikutnya dari orang-orang yang mengantar Abah kerumah sakit membuat aku terdiam seperti batu, yang aku cemaskan terjadi. Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun begitu ucapan yang keluar dari orang-orang tersebut.

“ sudahlah buk, kita doakan saja dia istiqomah” sayup kudengar bisikan kak Hilda ditengah hujan pagi ini sembari menuntun ibu masuk kedalam rumah untuk menunaikan sholat subuh yang sudah tiba.

***

“ waalaikumsalam”,  jawab penghuni rumah . Ibu menyambutku dengan segelas weddang jahe ,kucium tangannya.

Seperti sebuah rutinitas pagi selepas sholat subuh di masjid, abah akan masuk kekamar dan memulai kultumnya. Dan seperti kejadian berulang semua nasehatnya aku dengar dengan sangat baik tapi sampai detik ini aku masih malas untuk mengikuti abah sholat subuh dimasjid.

“ Ayolah bangun Mas, kapan kamu jalan sama Abah ke Masjid”, kata beliau sarat dengan pemohonan