Online Baccarat Casino_Online Baccarat_Online betting company_BetVictor

  • 时间:
  • 浏览:0

TexaTexas Hold'em Downloads Hold'em DownloadtexTexas Hold'em Downloadas Hold'em Download"Surat Texas Hold'em Downloaditu… surat yang kamu terima tiap sore lewat Ibu, itu kamu yang tulis dan kirim sendiri kan?" 

Apa ada seseorang yang…

Mengingatkan diriku yang dulu.

"Ayo, kita ngobrol dulu, mumpung cuaca sorenya lagi enak."

Tak apa jika tak ada yang menyukaiku selamanya. Aku akan tulus jika memang aku ditakdirkan sendiri meski katanya setiap orang punya jodoh, tapi tak ada yang bilang bahwa kita pasti bertemu jodoh kita, kan? Well, yang penting ada yang mencintaiku, yaitu aku.

Ada yang lain di dalam diriku.

Maksudku, orang yang mengirim surat ini tak bilang menyukaiku, tapi kamu pasti paham mengapa aku berpikir seperti itu.

Aku mengangguk, mengira bahwa nasihat itu hanyalah nasihat biasa.

Bahwa selama ini, sesuai dengan perkataanku di kelulusan SMA.

"Kalau kamu ada apa-apa, cerita sama Ibu, ya, nak. Semua anak indekos yang pernah tinggal di sini selalu Ibu anggap seperti anak sendiri." Info untukmu, Bu Asih tak punya anak. Tepatnya, beliau dan suaminya memang tak bisa punya anak. Jadi, Bu Asih ini jauh dari kata Ibu-Ibu indekos galak yang sering ada di cerita-cerita. Ia memang begitu baik pada kami karena telah menganggap kami adalah anak-anaknya.

Ada yang menghiburku dengan surat cintanya. Surat cinta yang selalu kutunggu.

"Tapi mungkin memang belum dikirim ke sini aja sama pihak jasa kirimnya."

"Tapi, toh, nyatanya, meski Ibu pesimis sampai dewasa dan nggak berani bertanya apakah ada yang bakal menyukai Ibu atau enggak, Pak Dani akhirnya datang juga dan melamar Ibu." Bu Asih tampak tersenyum malu-malu. Pak Dani adalah suaminya, omong-omong.

Apa? Pergi ke luar? Aku bahkan selalu bangun siang di hari Selasa karena tidak ada kuliah pagi. Bagaimana aku bisa pergi?

"Nggak ke kampus, Nad?"

Dengan sangat sadar, aku menghela napas kecewa dan duduk dengan lesu di kursi teras, masih akan menunggu. Hingga beberapa menit kemudian, Bu  Asih, sang pemilik indekos membuka pagar dari luar. Aku langsung berdiri dan menyambut Bu Asih.

Dari seseorang dengan perasaan yang kamu harapkan.

Aku menunggu dan menunggu. Terkadang, aku memikirkan bagaimana isi surat itu kali ini (apalagi setelah dia menjanjikan akan mengatakan sesuatu lewat surat itu). Selain itu, aku juga memikirkan siapa dia. Siapa yang menulis dan mengirim surat-surat itu?

Ibu bahkan menganggap hal itu adalah hal yang romantis. Anak zaman sekarang mana ada yang masih tukar surat. Tapi, setelah Ibu intip isi surat balasan itu sedikit, ternyata itu bukan balasan, itu surat yang kamu tulis sendiri di pagi harinya, Nada. Itu kamu yang tulis."

Ya, sekarang adalah hari pesta kelulusan. Banyak sekali topik menyenangkan yang dapat dibahas, tapi aku malah memilih topik yang menyakitkan. Fakta bahwa tidak ada seorang pun yang menyukaiku sampai saat ini.

Dan aku mengangguk, sebagai balasan.

Ada yang menenangkanku.

Aku mengangguk sambil tersenyum sopan. "Iya, Bu."

Aku mengepalkan tanganku dan menatap wajahku lewat pantulan cermin, mencoba untuk tersenyum menenangkan.

Aku nggak berharap kamu nerima aku, tapi aku pengin kamu menyadari kalau ada aku yang mencintaimu.

Aku menoleh heran pada Bu Asih, tiba-tiba saja beliau bercerita.

Namun, seiring waktu berjalan, yang kutunggu tak kunjung datang. Aku bangkit dari kursi dan akhirnya memegang kenop pintu ruanganku yang terasa dingin dan membukanya.

Bu Asih terdiam sejenak. Lagi-lagi! Beliau memasang eskpresi cemas campur ragu yang… sumpah, ada apa sih dengan Bu Asih?! Tidak biasanya beliau seperti ini. "Kamu tunggu sebentar lagi aja, Nad, mungkin nanti ada."

Hanya aku yang mencintai diriku sendiri.

Jujur saja, aku sudah memikirkannya di malam sebelum pesta kelulusan. Di dua jam pertama, aku merasa sangat membenci diriku. Di dua jam ke dua, aku merasa khawatir bagaimana kalau tidak ada yang menyukaiku selamanya. Di dua jam ke tiga, aku memikirkan bahwa…

Tapi, toh, akhirnya, aku akan belajar mencintai diriku sendiri.

Pesta kelulusan. Belum pernah sama sekali ada yang menyukaiku.

Aku akan menunggunya.

Aku menghela napas kecewa. Ini hari Selasa. Hari yang selalu kutunggu-tunggu. Hari yang selalu sukses membuat jantungku berdegup kencang sekaligus bertanya-tanya.

Namun kakiku berhenti begitu saja ketika baru saja menginjak teras. Di dekat pagar, kulihat Kak Ana—senior di kampusku yang sama-sama menyewa indekos di sini sedang berjalan mendekat.

Aku tersenyum, merasa bersyukur dan berterima kasih jika memang ada yang menyukaiku. Sangat senang jika itu benar. bahkan kurasakan kupu-kupu sudah beterbangan di perutku. Sampai akhirnya kupu-kupu tersebut tak mengepakan sayapnya lagi dan mati tergeletak begitu aku mendengar suara pagar dibuka. Aku segera menyimpan keempat amplop yang masih kupegang dan langsung bergegas keluar. Jantungku berdegup kencang. Amplop kelima akan segera berada di tanganku!

Air mataku tiba-tiba saja jatuh. Kukira, Bu Asihlah yang sedikit tidak waras karena perkataannya serasa ngawur, jujur saja. Tapi, Bu Asih bilang ia punya bukti fisiknya. Itu artinya masalahnya ada padaku. Ada yang tidak beres denganku.

"Assalamualaikum." Kuketuk pintu rumah tersebut, namun tak ada jawaban sampai aku kembali mengetuknya beberapa kali dan tetap masih belum mendapatkan reaksi apa pun dari pemilik rumah.

Lamunanku buyar ketika aku mendengar pintu rumah dibuka. Rupanya itu Bu Asih, dengan dua cangkir di tangannya. Beliau lalu berjalan dan menghampiriku. "Masih nunggu suratnya datang, Nad?"

Selasa, 2 Oktober 2018

Aku harus mencintai diriku sendiri. Kalau tidak, siapa lagi?

Bu Asih memelukku erat begitu melihatku menangis. "Ibu bakal menemanimu pergi ke seseorang kalau kamu mau berhenti."

Sebelum Bu Asih mengatakan kalimat selanjutnya.

Nada, kamu kelihatan semangat banget begitu aku bilang akan menyatakan sesuatu padamu sebelumnya. Kalau gitu, aku bakal ngungkapin sesuatu ke kamu.

Aku mengangguk. Setelah itu Bu Asih pergi ke rumahnya yang berseberangan dengan indekos yang disewakannya, tak lupa aku mengucapkan terima kasih sebelum itu.

Bu Asih tampak terkejut mendengar perkataanku.

Kelas 11. Uhm, mungkin aku terlalu kaku dan kurang menyenangkan.

Diam sejenak. Suasana sekitar kami serasa benar-benar tidak baik. Hembusan angin yang awalnya menyejukan jadi begitu dingin menusuk. Teh yang kami punya masing-masing masih tersisa banyak. Dan teh milikku sudah dingin, aku yakin begitu pula dengan teh milik Bu Asih.

Bu Asih tampak heran melihatku begitu bingung. "Jangan bilang… kamu nggak sadar apa yang selalu kamu lakukan di Selasa pagi sebulan ini?"

Aku balik menyapa Kak Ana. Setelah basa-basi sedikit, Kak Ana masuk ke ruangannya yang kebetulan berada di sebelah ruanganku.

Rasanya aku ingin tersenyum. Namun, aku juga merasakan penasaran yang begitu besar. Banyak pertanyaan yang memenuhi otakku. Detik selanjutnya aku memutuskan untuk membuka amplop tersebut dan membacanya.

Hatiku mencelos mendengar perkataan Bu Asih.

Bu Asih tampak sedikit memasang raut wajah yang… tak bisa kudefinisikan, ia tampak kaget namun khawatir atau takut, entahlah. Sebelum raut wajahnya kembali normal. Beliau menggeleng. "Enggak ada."

Ibu Asih tampak memasang raut wajah tak enak. Seperti saat tadi aku pertama kali bertemu dengannya di hari ini. "Kamu nggak pengin berhenti nulis surat buat diri sendiri?"

Tangan kananku meremas kertas tersebut. Tak menyangka bahwa yang menulis surat itu adalah aku sendiri. Diriku yang lain. Dan aku tak sadar.

Hai, ini pertama kalinya aku menulis surat untuk seseorang. Kamu Nada, kan? Senang kalau surat ini bisa sampai padamu :)

"Ah, bukan nggak ada yang suka lagi, tapi bahkan Ibu diejek sama teman cowok, sampai-sampai sahabat Ibu langsung beliin bedak dan hal-hal lain buat ngurus muka Ibu." Bu Asih terkekeh. "Tapi itu bukan kumal. Wajah dan kulit Ibu memang seperti itu. Tak bisa diubah."

Bukan, aku bukannya menyerah untuk menunggu.Tapi aku hanya merasa haus dan butuh air mengalir ke dalam tubuhku.

Aku kembali duduk. Satu jam lagi. Aku mengingatkan diriku untuk menunggu maksimal satu jam lagi. Jika memang tak ada yang mengirim amplop sampai jam itu, aku tak akan menunggu lagi.

Kelas 10. Ah, mungkin memang belum saatnya.

Selasa, 9 Oktober 2018

Kuliah melelahkan, ya? Ayo semangat!

Aku mengangguk. "Bisa juga, bu."

"Tapi, suatu hari, Ibu lihat kamu nulis surat itu di teras, dan Ibu nggak sengaja melihat apa yang kamu tulis karena saat itu posisi Ibu sedang menjemur pakaian di dekat teras ruanganmu. Perkiraan Ibu semakin kuat, kalau kamu memang sedang bertukar pesan dengan seseorang yang kamu sukai. Dan balasan surat itu datang di sore hari, mungkin jarak kalian dekat makanya kamu bisa ngirim surat pagi hari dan langsung dapat balasannya di sore hari, Ibu pikir seperti itu.

Bu Asih tersenyum, namun seperti senyum yang dipaksakan atau entah apa, kenapa ekspresi Bu Asih kelihatan aneh hari ini? "Ibu yakin kalau suratnya udah dititipin ke pihak jasa kirimnya. Mungkin pihak jasa kirimnya aja yang belum nganterin."

Aku tidak tahu mau menulis bagaimana, tapi aku hanya pengin kamu tahu dulu bahwa aku ada.

Sebenarnya aku sudah lama memperhatikan kamu. Dan aku bisa jamin kalau aku suka kamu. Ralat, aku cinta kamu.

Aku semakin mengernyit. Apa maksudnya?

Aku termenung. Posisiku sama dengan tadi, duduk di kursi teras. Aku masih menunggu pihak jasa kirim mengantarkan amplopnya. Setelah sama-sama melihat rekaman cctv yang merekam Selasa pagi, aku kembali duduk di sini dengan perasaan yang hancur sembari masih menunggu surat itu karena tadi aku melihat diriku lewat cctv, pergi di pagi hari dengan membawa amplop. Jadi, sudah pasti akan ada surat lain lagi. Begitu menyeramkan melihat diriku sendiri bertingkah tanpa aku sadari tadi pagi.

Jika saja si pemakai juga rupawan.

Omong-omong, semangat untuk semester pertamanya di perkuliahan!

Aku tersenyum dan berniat menanyakan bagaimana Bu Asih dapat mengenal Pak Dani sebelumnya. Namun, Bu Asih tiba-tiba memegang tanganku.

Kelas 12. Sepertinya aku tidak menarik.

Aku mendengarkan dengan seksama cerita Bu Asih, meski dalam hati bertanya-tanya apa yang mendorong Bu Asih menceritakan hal ini? Pengisi cerita di sore hari kah? Tapi kenapa harus cerita seperti ini?

"Dulu, Ibu itu kumal sekali, sampai-sampai kayaknya gak ada yang suka sama Ibu."

Aku menatap amplop yang kutunggu sedari tadi. Aku takut membacanya. Ini artinya, secara tidak langsung aku sedang mendengarkan diriku yang lain.

Selasa, 23 Oktober 2018

"Ibu mengatakan hal yang sebenarnya, Nad. Kamu menulis surat itu dan mengirimnya untukmu sendiri." Bu Asih berkata pelan dan lembut, seperti berusaha agar tidak menyinggungku. “Kalau kamu tidak percaya, kamu bisa melihat rekaman cctv di depan rumah Ibu yang merekam kejadian Selasa pagi."

Di pantulan itu ada perempuan berbalut kebaya cantik berwarna toska.

"Kamu nggak pengin berhenti menulis?"

Aku menghela napas. Sungguh tak sabar rasanya menunggu surat itu datang. Biasanya, paket selalu dititipkan ke Bu asih, begitupun dengan amplop putih yang sudah dikirimkan kepadaku sebanyak empat kali. Tapi, kali ini aku akan menerimanya langsung. Jika saja dia memang mengirim surat lagi.

Lalu yang kutunggu datang. Seseorang dari pihak jasa kirim memasuki halaman indekos dan aku langsung menerima amplop yang ia antarkan tanpa banyak bicara.

Aku tahu, aku tahu apa maksud Bu Asih. Bu Asih menyarankanku pergi ke psikolog atau mungkin psikiater, entahlah.

Aku suka kamu.

Jika kau berpikir bahwa aku begitu berlebihan karena baru saja lulus SMA sudah berpikiran seperti itu, maka kau mungkin tidak bisa merasakan apa yang kurasakan.

Perlahan, aku membuka amplop tersebut. Rasanya aku lupa bernapas saat membaca isi surat itu.

Aku mengangkat alis lalu tersenyum malu. "Ibu kok yakin banget kalau ada yang pengin ngirimin saya amplop lagi?" Bu Asih bahkan tidak tahu apa isi amplop tersebut.

"Eh, Nada," sapa Kak Ana.

"Eh?" Aku mengangkat alis. Jadi cangkir dengan wangi teh ini untukku?

Aku merasa konyol sekarang.

Yakin tak ada orang di rumah besar itu, aku menyebrang menuju indekos yang masih satu halaman dengan rumah tersebut dan duduk di salah satu kursi yang memang disediakan untuk anak-anak indekos di teras.

Aku mengangguk pelan. "Ibu pasti salah. Saya selalu bangun siang tiap hari Selasa."

Selasa, 16 Oktober 2018

Sudah makan? Ayo semangat! Kamu kelihatan capek akhir-akhir ini, supaya kamu semangat, maka akan aku beritahu sesuatu nanti. Sesuatu yang semoga saja kamu senang.

Aku tersenyum dan mengucapkan terima kasih lalu menerima cangkir tersebut. Kuhirup cangkir berisi teh itu perlahan-lahan. Bu Asih benar, cuaca sore ini memang sedang bagus, matahari terang dan angin berhembus pelan tapi pasti. Sungguh nikmat ditambah secangkir teh hangat.

Semua kata demi kata dalam isi surat tersebut selalu berhasil membuatku menyatukan kedua alis namun secara bersamaan rasanya ada kupu-kupu di perutku.

Aneh rasanya. Beberapa menit yang lalu, aku masih menggebu-gebu menunggu surat itu datang. Tapi sekarang, aku menunggunya dengan perasaan yang berbeda. Perasaan yang menakutkan.

Kusimpan gelas kosong yang selesai digunakan lalu bergegas ke luar lagi untuk menunggu. Namun, baru saja memegang kenop pintu, aku menoleh ke arah meja belajar, tepatnya ke arah empat amplop putih yang tergeletak di sana. Tanganku kuurungkan untuk membuka pintu, lalu segera menghampiri meja belajar dan mengambil keempat amplop tersebut.

Jam tanganku masih menunjukkan pukul tiga lebih dua puluh tujuh menit kala aku sampai di halaman indekos. Bukannya menuju ruanganku, aku berbelok ke arah kiri di mana di sana terdapat rumah yang lebih besar dari indekos di hadapannya.

Aku menggeleng. "Bu, saya nggak pernah nulis surat pribadi buat siapa-siapa. Apalagi ngirim ke diri sendiri. Itu konyol."

Bu Asih duduk di sebelahku dan memberikan salah satu cangkir yang ia pegang.

Bu Asih memasang raut wajah kasihan. "Suatu saat bakal ada yang menyukai kamu. Kamu bisa berhenti, Nada." Bu Asih meremas pelan tanganku. "Ibu selalu ingat, beberapa minggu ini, tiap hari Selasa, kamu suka bangun pagi-pagi dan pergi ke luar sambil megang amplop. Ibu kira, kamu lagi bertukar surat sama seseorang, mengingat kamu suka nerima amplop di sore harinya."

Kata orang, masa SMA adalah masa yang paling menyenangkan. Tapi tidak denganku. Masa SMA-ku begitu monoton. Jika saja dianologikan dengan sebuah garis, maka hidupku seperti halnya garis lurus. Tidak ada sama sekali hal percintaan yang kudambakan sejak pertama kali masuk SMA.

"Udah pulang, Bu.” Aku terdiam sejenak. "Eum, Bu, hari ini ada kiriman amplop lagi?"

menyukaiku?

Sampai akhirnya, di sinilah aku menerima empat surat (sebentar lagi mungkin akan bertambah) yang membuatku bertanya-tanya, apakah benar ada yang menyukaiku?

Aku mengernyit. "Menulis apa, Bu?"

***

Untuk kesekian kalinya.

Hatiku langsung kecewa. Sia-sia penantianku daritadi.